Cerita Fantasi
Kecerdasan
Ayam
Oleh Muhammad Irsyad Hamid Nugroho
Pada hari Minggu, Sanu, Royan,
dan Tegar melakukan kunjungan ke peternakan ayam. Mereka bertiga melakukan
kunjungan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Peternakan ayam tersebut berada di
wilayah Ungaran.
“Wah, banyak sekali ayamnya!”
ujar Tegar sambil kagum.
“Iya, benar, Gar. Kalau begini
kita dapat menyelesaikan tugas sekolah dengan cepat,” sahut Sanu.
“Sudah-sudah lebih baik kita
cepat-cepat menyelesaikan tugas sekolah!” ujar Royan.
Mereka bertiga langsung mengamati
ayam untuk dijadikan bahan penelitian. Akhirnya mereka bertiga menemukan satu
ayam yang cocok untuk dijadikan bahan penelitian.
“Sepertinya ayam ini cocok untuk
dijadikan bahan penelitian,” ujar Royan.
“Iya benar, sepertinya ayam ini
sangat sehat dan ayam ini juga memenuhi syarat untuk dijadikan bahan
penelitian,” sahut Sanu.
“Kalau begitu kita langsung saja
tanya kepada pemilik peternakan ini,” Ujar Tegar.
“Permisi, paman. Kami ingin
membeli ayam ini, kalau boleh tahu berapa harga ayam ini?” tanya Tegar.
“Kalian yakin ingin membeli ayam
ini?” tanya paman itu kepada mereka bertiga.
“Kami yakin sekali!, ayam ini
adalah salah satu ayam yang memenuhi syarat untuk dijadikan bahan penelitian,”
jawab Sanu dengan tegas.
“Memangnya kenapa paman tanya
seperti itu?” tanya Royan kepada paman tersebut.
“Ayam itu sangat aneh. Setiap
pagi ayam itu berkokok terus selama satu jam. Dan ayam itu sering mengais-ngais
tanah,” jawab paman itu.
“Kalau berkokok selama satu jam
itu memang hal aneh, tetapi kalau mengais-ngais tanah itukan memang hal yang
wajar,” ujar Tegar.
“Masalahnya ayam itu kalau
mengais tanah seakan-akan bumi seperti bergoyang,” ujar paman itu sambil
memberikan penjelasan.
“Kami tidak percaya, masak ayam
mengais tanah dapat membuat bumi bergoyang. Memangnya goyang dombret,” ujar Sanu.
“Kalau begitu terserah kalian.
Ambil saja ayam itu, gratis!” ujar paman itu.
Setelah mereka mendapatkan ayam
itu, mereka langsung melakukan penelitian. Tiba-tiba saat mereka melakukan
penelitian ayam itu mengeluarkan aroma yang tak sedap, yang membuat ketiga anak
itu pingsan.
Saat mereka bertiga bangun dari
pingsan, mereka terkejut karena mereka berada di tempat yang asing.
“Dimana ini?” tanya Royan.
“O, jadi kalian sudah bangun.”
“Bukankah anda ayam yang kami
jadikan bahan penelitian?” tanya Sanu.
“Iya, itu benar.”
“Mengapa anda dapat berbicara?”
tanya Royan.
“Sebelumnya aku ingin
memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku adalah Amuk. Aku merupakan ratu
ayam,” ujar Amuk.
“Jadi, kau ini adalah betina aku
pikir kau ini jantan,” ujar Sanu.
“Aku membawa kalian kesini karena
aku ingin menguji kepintaran kalian. Aku telah melihat kepintaran kalian dari
alam ini,” ujar Amuk.
“Jadi, kau membawa kami kesini
hanya untuk menguji kepintaran kami, silahkan tanya apa-saja,” ujar Tegar
sambil sombong.
Tiba-tiba ayam yang bernama Amuk
itu langsung mengais-ngais tanah dengan kakinya. Tiba-tiba bumi bergoyang.
“Eh..eh.eh ada apa ini, mengapa
bumi bergoyang?” ujar Royan sambil takut.
“Aku ingat yang dikatakan penjual
ayam itu, jika kaki ayam itu mengais tanah bumi akan bergoyang!” ujar Sanu.
Akhirnya, ayam itu pun
menghentikan kakinya mengais tanah. Kemudian ayam itu bertanya.
“Aku ingin bertanya, mengapa
kakiku ini jika mengais tanah bumi akan bergoyang?” tanya Amuk.
“Aku tidak tahu,” jawab Sanu.
“Aku tidak tahu,” jawab Royan.
“Hmmmm, aku tidak tahu,” jawab
Tegar.
“Tadi kalian bilang kalian dapat
menjawab semua pertanyaan. Berarti kalian tidak secerdas yang aku pikirkan,” ujar
Amuk.
Mereka bertiga sangat malu karena
mereka tidak dapat menjawab pertanyaan dari Amuk.
“Itulah, kalian tidak boleh
sombong. Di dunia ini tidak ada yang lebih pintar dari Sang Maha Pencipta,”
ujar Amuk.
“Ya, kami mengerti. Kami terlalu
sombong sehingga kami melupakan kalau masih ada yang lebih pintar dari kami
yaitu Sang Maha Pencipta,” jawab salah seorang anak.
“Kami sadar ternyata anda membawa
kami ke alam ayam ini untuk menguji keimanan kami terhadap Sang Maha Pencipta,”
ujar Tegar.
“Akhirnya, kalian sadar. Kalian
boleh pintar tetapi kalian tidak boleh menyombongkan diri karena kepintaran itu
datangnya dari Sang Maha Pencipta,” ujar Amuk.
“Kami minta maaf karena kami
telah bersalah,” ujar ketiga anak itu secara serempak.
“Jangan minta maaf padaku tapi minta
maaflah kepada Sang Maha Pencipta,” ujar Amuk.
Kemudian ayam yang bernama Amuk
itu mengeluarkan aroma wangi. Ketiga anak itupun pingsan kembali. Saat mereka
bangun dari pingsan mereka terkejut karena mereka sudah berada di tempat
penelitian mereka.
“Akhirnya, kita dapat kembali
lagi ke sini,” ujar Royan dengan wajah senang.
Saat mereka ingin memulai
penelitian tiba-tiba,
“Apa ini?” tanya Sanu.
“Ini surat dari Amuk,” ujar
Tegar.
Kemudian salah seorang dari
mereka membacakan surat dari Amuk.
“Kalian jadilah
orang pintar tetapi jangan lupa kepintaran itu datangnya dari Sang Maha
Pencipta. Jadilah orang yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Sekarang
silahkan kalian boleh memulai penelitian ini. Aku sudah siap untuk kalian
gunakan sebagai bahan penelitian. Sekian.” kutipan surat
dari Amuk.
Mereka kemudian memulai
penelitian. Mereka sangat senang karena mereka telah disadarkan oleh ayam. Dan
saat itulah mereka mulai menambah kepintaran mereka dan mereka tidak sombong
kembali.
Asem hamid ws dadi penulis
BalasHapusMong hobi ngarang Ku Tengku
BalasHapus