Cerita Fantasi


Pertempuran Pensil Ajaib

Oleh Muhammad Irsyad Hamid Nugroho

 

          Pada suatu hari yang cerah, tiga anak bernama Habib, Sanu, dan Arman sedang berkeliling di Taman Indah. Taman tersebut sangat subur dan tumbuhannya pun sangat terawat. Tak heran kalau taman itu sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

          “Betapa indahnya taman ini, ya!” ujar Habib sambil kagum.

          “Ya, benar sekali, Bib. Taman ini penuh dengan pohon-pohon besar yang rindang dan di sekeliling taman pun terdapat bunga yang menghiasi taman ini!” ucap Sanu dengan memuji.

          “Kamu benar, Nu,” sahut Arman.

          Saat ketiga anak itu sedang berkeliling taman, tiba-tiba Arman menemukan sebuah pensil yang terdapat di sebelah pohon rindang paling besar.

          “Hei, kalian aku menemukan sebuah pensil!” ucap Arman.

          “Pensil ini pasti milik seseorang,” balas Sanu.

          “Tidak mungkin, kalau milik seseorang pasti pensil tersebut ada namanya!” ujar Arman sambil meyakinkan.

          “Lebih baik kita umumkan saja di pos pengumuman, barangkali pensil ini milik seseorang,” sahut Habib.

          Saat mereka ingin pergi ke pos pengumuman, tiba-tiba terdengar suara, “Kalian mau kemana?” sambil kebingungan, ketiga anak itu melihat ke kanan kiri atas bawah, tapi belum menemukan asal suara itu. Ketiga anak itu pun kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Dan kemudian terdengar suara lagi, “Jangan!!!, jangan!!!”. Ketiga anak itu pun takut karena mereka tidak tahu dari mana asal suara itu.

          Saat mereka kebingungan bercampur rasa takut, pensil yang dibawa oleh Arman pun bersinar, dan tampak seperti sinar itu menghisap mereka.

          “Apa yang terjadi ini tubuhku seraya terhisap karena cahaya pensil itu!”

          “Buggg....!’’

          Mereka pun terjatuh di sebuah tempat yang penuh dengan pensil.

          “Dimana ini?” ucap Habib sambil takut.

          Saat ketiga anak itu kebingungan munculah sebuah pensil yang sangat terang. Pensil itu berkata kepada mereka.

          “Selamat datang di Dunia Pensil!”

          “Kalian merupakan anak-anak yang baik, kalian telah menolongku dari bahaya,” ucap pensil itu.

          “Menolong?, kami hanya mengambil Anda karena tadi kami menemukan Anda di dekat pohon besar,” ucap Arman sambil memberanikan diri.

          “Anda ini siapa sebenarnya?” tanya Sanu.

          “Aku adalah raja dari seluruh pensil. Namaku Rasil. Sebelum aku berada di dekat pohon besar, aku sedang berperang dengan Rapen. Rapen merupakan raja dari Kaum Bolpen. Waktu itu, aku terlempar karena terkena tinta Rapen. Menurut leluhur, siapapun yang terkena tinta Rapen akan mati,” tutur Rasil

          “Lalu, kenapa kau dapat hidup kembali?” tanya Arman.

          “Menurut leluhur kaum pensil, jika terkena tinta Rapen akan mati tapi kami dapat hidup kembali apabila disentuh oleh kulit manusia. Saat aku bangun dari kematian aku bersinar dan sinar itu akan menyerap semua yang ada di sekelilingku. Maaf kalau aku menyerap kalian,” ucap Rasil.

          “Tidak apa-apa, itu semua kan tidak sengaja. Lalu bagaimana kami keluar dari sini?” tanya Habib.

          “Sebelum kalian keluar dari sini, maukah kalian membantu kami?” tanya Rasil.

          “Ya, baiklah!” jawab ketiga anak itu.

          “Terima kasih. Tolong bantu kami untuk menyerang Kaum Bolpen,” minta Rasil.

          “Apa? Lalu kalau kami nanti terkena tinta Rapen bagaimana? Kami bisa mati!” ucap Arman dengan nada tegas.

          “Kalian tidak akan mati, karena menurut leluhur kami kulit manusia sangat tahan dengan tinta Rapen. Jadi, tenang saja. Tolonglah, bantu kami!” minta Rasil dengan sungguh-sungguh.

          “Ya, baiklah kami akan membantu kalian,” ucap Habib.

          Keesokan harinya Kaum Pensil dan ketiga anak itu pergi menuju medan perang yang bertempat di Pulau Papan Tulis. Saat yang ditunggu pun tiba, dari kejauhan telah terlihat Kaum Bolpen yang telah menuju Pulau Papan Tulis.

          “Hahahahaha, jadi Kaum Bolpen juga kecil seperti Kaum Pensil, kalau begitu kita injak saja mereka,” ucap Sanu sambil menyombongkan diri.

          Dan akhirnya kedua kaum itu pun mulai berperang. “Serang!!!” teriak Rasil. “Serang!!!” teriak Rapen. Pertempuran sangat sengit. Ketiga anak itu belum maju ke medan perang.

          Karena keadaan Kaum Pensil sudah terdesak, akhirnya Habib, Sanu, dan Arman mulai maju. Tak butuh waktu lama, Kaum Bolpen mati karena diinjak oleh ketiga anak itu. Akhirnya, kemenangan berada di Kaum Pensil dan Kaum Bolpen mati semua tak ada yang tersisa.

          “Kami sangat berterima kasih karena kalian sudah membantu kami semua dalam pertempuran ini,” ucap Rasil.

          “Sama-sama. Lagipula kita sangat senang berada di sini. Dan walau kita berbeda tetapi kami tetap akan membantu kalian,” ucap Habib.

          “Sebagai balasannya, kalian akan aku kembalikan ke tempat asal,” ucap Rasil.

          “Terima kasih, Rasil!” ucap ketiga anak itu dengan wajah gembira. Sesaat cahaya waktu itu bersinar kembali.

          “Buggg.....!”

          Mereka pun terjatuh dan mereka tiba di taman.

          “Dimana ini? Apakah ini di taman?” ucap Sanu sambil kebingungan.

          “Sepertinya kita sudah di taman lagi,” jawab Habib.

            Mereka bertiga sangat senang karena satu hari penuh mereka isi dengan kegiatan yang menyenangkan. Bagi mereka, perang tadi tidak membuat mereka takut. Walau berbeda bentuk, suku, kaum tapi mereka tetap menolong sesama dan baik hati.

Komentar