Cerita Horor


Pohon Yamkan
Oleh Muhammad Irsyad Hamid Nugroho

Di suatu pagi, Amel, Pino, dan Wisnu sedang berjalan-berjalan di kebun Pak Sito. Mereka mengelilingi kebun Pak Sito dengan wajah senang.
“Alangkah indahnya kebun ini!” gumam Amel.
“Ya, kamu benar, Mel. Tumbuh-tumbuhan di sini sangat subur, di sekitar tumbuhan juga bersih dari sampah,” tambah Pino.
“Itu berarti Pak Sito sangat memperhatikan perawatan kebun ini,” puji Wisnu.
Mereka bertiga hampir sehari berjalan-jalan di kebun Pak Sito. Tak terasa hari sudah sore, mereka kemudian pulang ke rumah. Saat mereka ingin pulang tiba-tiba mereka merasakan ada yang memanggil-manggil nama mereka.
“Amel.......!, Pino.......!, Wisnu.......!” terdengar suara yang lirih.
“Kalian dengar tidak suara itu?” tanya Pino pada kedua temannya.
“Ya, Pin aku mendengarnya,” jawab Wisnu.
“Kok aneh ya, rasanya di sini sepi, tapi kenapa ada suara yang memanggil nama kita?!” heran Pino.
“Aku kok jadi takut, ya!” sahut Amel.
Kemudian setelah lama berpikir, akhirnya mereka pun lari sekencang-kencangnya dan berteriak ketakutan. Tiba-tiba mereka dicegat oleh Pak Sito.
“Lho-lho, kalian kenapa?” tanya Pak Sito.
“Kami tadi mendengar suara yang aneh Pak di sana,” jawab Wisnu.
“Suara apa?, Bapak sudah lama di sini tapi biasa-biasa saja,” sahut Pak Sito.
“Itu benar, Pak. Kami tadi mendegar suara yang menyeramkan. Kalau tidak salah suara itu berasal dari pohon tua yang ada di tengah kebun ini,” tambah Pino.
“Jadi, kalian mendengar suara dari pohon itu. Itu berarti kalian tadi melakukan kesalahan di dekat pohon tua itu,” ujar Pak Sito.
Sambil keheranan, mereka bertiga mengingat kembali, apakah mereka tadi melakukan kesalahan atau tidak.
Setelah lama mengingat, akhirnya Pino baru sadar.
“Oya, aku ingat. Tadi aku kencing di dekat pohon tua itu,” ujar Pino.
“Kenapa kamu lakukan itu, Pino?” tanya Pak Sito.
“Habisnya saya tidak tahan lagi, Pak,” jawab Pino.
“Sudah saya duga, kalau kesalahan itu adalah kencing di dekat pohon tua. Sudah banyak orang yang mengalami kejadian seperti kalian,” kata Pak Sito.
“Jadi, begitu, Pak. Terus, agar kami tidak diganggu lagi bagaimana, Pak?” Tanya Wisnu.
“Caranya mudah. Sekarang kalian ambil seember air di dekat sumur itu. Terus kalian siram pohon tua itu dengan air sumur yang telah kalian ambil. Nanti pohon tua itu tidak mengganggu kalian lagi,” jelas Pak Sito.
Kemudian, mereka bertiga mengambil seember air di sumur yang di tunjukkan oleh Pak Sito. Setelah itu, mereka bertiga menyiramkan seember air itu ke pohon tua yang mengganggu mereka tadi.
“Bagus, kalian melaksanakannya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Sekarang kalian ingat ya, sebelum kalian masuk ke kebun ini, kalian kencing dulu. Bapak sudah sediakan 10 toilet di pintu depan kebun ini. Bapak juga sudah menempelkan peringatan di pintu depan kebun ini, tapi banyak yang tidak memperhatikannya termasuk kalian,” ujar Pak Sito sambil kesal.
“Ya, Pak kami mengerti sekarang. Saya mau minta maaf sama Pak Sito karena saya sudah kencing di kebun, Bapak,” ujar Pino sambil minta maaf.
“Ya, Bapak maafkan,” jawab Pak Sito.
Kemudian, Pino pun berjanji, ia tidak akan kencing di kebun Pak Sito lagi terutama di dekat pohon tua itu. Mereka bertiga akhirnya sepakat untuk menamai pohon itu dengan nama “Yamkan”, kepanjangan dari “Pohon yang Menyeramkan”. Pak Sito pun juga setuju dengan nama itu.

Komentar

Posting Komentar